Memiliki anak perempuan memang keinginan saya sebelum menikah. Maklum, dalam persepsi saya yang didasarkan pada pengalaman realitas sosial, biasanya anak perempuan lebih sensitif terhadap persoalan keluarga. Selain itu, anak perempuan umumnya memiliki rasa sayang yang lebih daripada anak laki-laki.

Entahlah, apakah persepsi saya ini salah atau benar yang pasti rasa bangga dan bahagia menyelinap dan menjadi warna tersendiri dalam hidup saya. Sejak Fadia hadir pada 20 April 2008 lalu, kami berdua dan orangtua merasa hidup ini menjadi lebih hidup.

Di usianya yang memasuki 8 bulan tepatnya, Sabtu, 27 Desember 2008, tiba-tiba kami dirundung kesedihan dan panik. Fadia, anak pertama saya yang menggemaskan karena pipinya tembem (cabi-cabi), bulat dan lincah. Tiba-tiba menjadi lesu tak berdaya seperti tanaman putri malu yang selalu merunduk jika disentuh oleh tangan-tangan usil.

Hari itu, angin bertiup lumayan kencang, suara bletak-bletok terdengar dari atap tempat singgah kami. Sengaja saya tidak menyebut rumah karena statusnya masih ngontrak. Nyi Lebrak, demikian Fadia biasa dijuluki oleh neneknya di Kampung. Kini, sedang kena panas, suhu naik dan mendadak rewel.

Beberapa kali saya mengajak istri agar dibawa ke dokter spesialis, ia menolak dengan alasan Fadia hanya kena panas biasa. Sebagai orang terdekat Fadia, saya percaya dengan petuah sang istri. Apalagi, Fadia masih sering menebar senyum kepada setiap orang yang mengajaknya meski tidak seenergik ketika sehat.

Waktu terus berlari seperti mengajak Fadia agar keluar keringat dan cepat sembuh. Matahari pun mulai bersembunyi karena kelelahan mengitari bumi berjam-jam. Malam hari, panas Fadia mulai turun tapi tangisnya tak berhenti, seperti merasakan sesuatu yang sakit di badannya.

Menurut istri, panas Fadia sudah turun tapi belum mau makan. Dalam pikir kami mungkin Fadia masih merasakan pahit di lidah, seperti halnya orang dewasa yang sedang sakit. Roti pun terasa buah mengkudu, terasa pahit dan tidak mengenakan bagi lidah dan perut.

Melihat tangisan pilu dan sendu itu, saya kembali mengajak istri untuk membawa Fadia ke dokter spesialis anak, di salah satu rumah sakit swasta di Kota Serang. Sabtu, 27 Desember 2008, sekitar pukul 08.00 WIB, akhirnya istri setuju dan membawa Fadia ke dokter spesialis yang dinas di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Asih.

Di rumah sakit ini pula, Fadia pernah diperiksa akibat kulitnya memerah pada usia 6 bulan. dr. Ramona, itulah nama seorang dokter spesialis anak yang memberikan beberapa nasehat kesehatan kepada kami berdua. Terima kasih bu dokter atas anjuranmu sehingga kulit Fadia yang kena memerah kini sembuh.

Bagi saya, dr Ramona memiliki kelebihan dibanding dokter lainnya. Diantaranya, Ramona mau meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol soal anak, mulai dari jenis makanan sehat, obat-obatan hingga pakaian. Dari dokter ini pula, istri saya semakin yakin kalau makanan yang sehat bagi Batita adalah ASI dan makanan alami lainnya.

Memang, sejak Fadia lahir belum pernah diberi makanan seperti biscukit ataupun susu formula. “Fadia itu anak manusia bukan anak sapi, jadi minumnya ASI, bukan susu sapi,” kata istri ketika disodori sejumlah makanan dan susu formula dari rekan-rekannya.

Usai ke dokter Ramona, kami berdua sedikit lega meskipun masih menyisakan kekhawatiran, karena ternyata Fadia terkena amandel. Kata Ramona, amandelnya belum bisa diambil karena usia Fadia masih terlalu kecil dan baru bisa diambil setelah usianya sudah mencukupi yaitu sekitar 7 tahun.

“Tapi, tidak apa-apa kok, yang penting Fadia harus dijaga betul kesehatan makanan, minuman, pakaian dan lingkungannya. Hati-hati kalau di bawa ke rumah tetangga atau keluar rumah, karena sepertinya Fadia terkena virusnya di luar rumah yang menular melalui angin,” kata Ramona, setelah mendengar penjelasan dari istri bahwa Fadia kesehaaan Fadia relatif terjaga.

Jujur saja, kalau soal makanan, pakaian dan rumah, istri paling sensitif. Tak heran, pakaian Fadia selalu bersih, makanan pun steril. Jangankan bahan makan atau minuman Fadia, botol minuman atau dot Fadia saja, direbus air panas dahulu sebelum dipakai.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Subhanallah maha suci Allah. Resep tiga botol obat yang terdiri dari antibiotik, vitamain dan anti rahang dari dokter Ramona, ternyata manjur. Fadia pun sembuh dan kembali ceria, jingkrak-jingkrak, dan menebar senyuman dari mulutnya yang belum bergigi, tawa gemasnya kembali menggoda setiap orang yang melihat untuk mencubitnya. Lucu dan menggemaskan pun kembali menghiasi persinggahan kami.

Dari pengalaman mengajak Fadia ke dokter spesialis, saya pun sering ngobrol dengan Fadia. Mau jadi dr Ramona, yang ahli anak atau dr Herlinda, dokter spesialis kandungan di rumah sakit yang sama dimana dr Ramona kerja. Namun, tawaran profesi rupanya datang juga dari istri. “Atau dr Inong, ahli kulit yang mengisi rubrik di majalah Ummi,” kata istri.

Apapun nanti yang engkau pilih, Abi dan Ummi setuju, yang terpenting tidak meninggalkan tauhid dan tetap memiliki semangat untuk membantu sesama mahluk Allah. Apakah dr Ramona, dr Herlinda atau dr Inong, Abi dan Ummi akan dukung sepenuhnya. Terima kasih para dokter spesialis, kalian telah memberikan insipirasi kami berdua untuk menanamkan cita-cita pada anak pertama saya. ***

Kota Serang, Januari 2009