"Waduh, mati listrik lagi. Bagaimana sih PLN ini, giliran bayar tidak boleh terlambat tapi pelayanan byar pet, byar pet. Mana hari sudah malam, hujan lagi,” gerutu suami saya ketika listrik mendadak mati sekira pukul 18.30 WIB.


Usai shalat maghrib berjamaah di rumah, seperti biasa kami bercengkrama di ruang tamu. Fadia yang memasuki usia dua tahun bertingkah lucu, suka nyanyi sendiri dan selau melompat-lompat di atas kasus. “Ini anak tipenya kinestetik dan language, nanti sekolahnya di Peradaban saja yah,” kata suami kepada saya sambil melihat Fadia yang cengar-cengir.

Sekolah Peradaban adalah sekolah alam di Kota Serang, Provinsi Banten, yang dikelola teman-teman suami. “Umi, Umi,” teriak Fadia saat tiba-tiba listrik mati. Suasana mendadak ramai, saya mencari lilin sedangkan suami mengamankan Fadia.

“Lilin kemana yah, waduh ternyata habis juga, tapi tidak perlu beli Bi, nanti Ummi carikan solusi sepertinya pakai minyak jelantah bisa nyala,” kata saya kepada suami. Setelah mondar-mandir mencari gelas hias yang biasanya digunakan untuk penerangan kolam mungil di taman rumah akhirnya suasana mulai tenang.

Empat gelas ukuran mini telah dikumpulkan ke dalam satu tempat. “Beli lilin saja sih Mi,” kata suami yang ingin praktis dan tidak perlu repot-repot. Selang beberapa menit kemudian, kedipan lampu dari minyak jelantah yang ditaruh di gelas mungil tampak. “Tuh kan nyala, Ummi gito loh. Akhwat jenius,” kata saya kepada suami sambil membanggakan diri.

Bulan Februari 2010 sering terjadi pemadaman bergilir di beberapa wilayah Kota Serang, Provinsi Banten, dimana saya berlabuh. Konon, ini akibat PLN kekurangan pasokan listrik yang sebetulnya alasan ini membuat saya bingung. “Laut kita luas, angin juga cukup, banyak energi alam yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber tenaga listrik. Kenapa kok masih kekurangan pasokan tenaga listrik, aneh,” gumam saya kepada suami.

Namun saya harus sadar, menggerutu saja tidak akan menyelesaikan masalah. Toh, mulai dari Direksi PLN sampai Presiden SBY tidak tahu kesulitan keluarga kami ketika mati lampu. “Sebagai rakyat biasa, saya harus tetap semangat untuk ikut serta dalam program penghematan energi,” gumam saya untuk menghibur diri.

memanfaatkan minyak goreng bekas atau sering disebut jelantah. Yah, ini ide yang muncul tiba-tiba ketika mati listrik malam hari. Yah, paling tidak saya tidak perlu membeli lilin setiap mati listrik. Selain itu, penggunaan minyak jelantah untuk penerangan juga untuk menghemat tenaga listrik dan ramah lingkungan.

Sebab, dengan lampu saving energy, sama halnya penambahan pemakaian listrik pada saat pengisian. Menggunakan lampu minyak tanah pun sudah langka dan cukup berbahaya. Menggunakan lilin, selain merupakan salah satu hasil tambang kalau matinya tiap hari bisa habis berdus-dus akibatnya arti penghematan itupun akan hambar.

Pakai genser?. Wauh, rumah tangga pakai barang ini mewah banget tuh. “Kalau penerangan pakai genset beberapa saat nyala langsung diprotes tetangga, lah iya brisiknya minta ampun kok. Selain itu, kalau pakai genset sama halnya mengganti listrik dengan bensin, dimana lagi arti penghematan sumber daya alam,” kata saya diskusi dengan suami.

Lalu apa yang kita lakukan agar hemat sumber daya alam tapi rumah tetap terang. Awalnya saya tidak terpikirkan menggunakan minyak jelantah tapi setelah melakukan pemikiran, saya mencoba memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar lampu. Loh kok minyak jelantah bisa nyala?.

Ingat dengan mainan perahu yang digemari anak-anak. Coba, ingat-ingat bahan bakar apa yang digunakan perahu itu sehingga bisa menjadi energi untuk menggerakan perahu tersebut. Minyak jelantah bukan?. Ingin tahu cara membuatnya agar rumah kita tetap terang meski mati lampu tanpa harus membeli lilin. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

Siapkan satu lilitan kapas dengan panjang kurang lebih 3 cm. Lalu?, sebentar dulu sabar yah. Setelah itu siapkan satu yang kira-kira cukup bisa digunakan untuk membuat lubang pada satu buah tutup botol sirup atau minuman lainnya (yang pasti jangan tutup botol Aqua, pasti meleleh). Buat lubang di tutup botol tersebut melebar agar aliran panas tidak terperangkap.

Tumpahkan minyak jelantah ke dalam botol lalu masukan kapas yang sudah dililit ke lubang botol agar menjadi sumbu api. Terakhi, apungkan tutup botol yang sudah bersumbu di atas minyak yang telah di taruh di gelas. Nyalakan sumbunya dengan korek, nyala deh!. Sederhana bukan?. Sok coba praktekan biar bisa ngirit belanja rumah tangga.

Kota Serang, Juli 2010