Setiap detik, hari, bulan dan tahun, kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Yah, pilihan yang terkadang membingungkan karena sebagai mahluk yang memiliki nafsu. Padahal, salah memilih berarti wajah dan nasib kita akan berubah.

Sabtu, 20 Juni 2009 sekitar pukul 13.00 WIB, secara tidak sengaja saya membaca sebuah buku yang sudah dua mingguan diacuhkan. Syukurnya, masih ada lipatan buku sebagai pertanda batas akhir halaman yang saya baca beberapa waktu lalu.

Lembar demi lembar buku berjudul Room to Read yang ditulis oleh mantan eksekutif muda di Microsoft, Amerika Serikat, John Wood, saya baca dan telaah secara perlahan. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa dan salah satunya adalah bahasa Indonesia, ini cukup menarik dan insipiratif terutama bagi sesorang yang memiliki rasa kemanusiaan soal nasib anak-anak di pelosok daerah yang memiliki keterbatasan akses informasi.

Di dalam buku setebal 385 halaman ini, Jhon menceritakan pergolakan dan proses penjelamaan dirinya dari salah satu pimpinan di Microsoft menjadi aktivis sosial, setelah berhenti di perusahaan milik Bilgates tersebut. Jhon yang berhasil meraih Academy for Educational Development “Breakthrough Ideas in Education” Award 2007, ini nekat meninggalkan karirnya di Microsoft dan aktif pada kegiatan non profit yang bergerak di bidang pendidikan dan berhasil membangun 7.000 perpustakaan di pelosok dunia (lebih lengkapnya baca bukunya yah).

Setelah membaca buku ini selama satu jam lebih, saya langsung mengambil laptop yang tersimpan di dalam lemari dan langsung memencet keyboard hitam mungil di laptop tersebut. Tampak istri dan Fadia anak pertama saya, masih lelap dengan tidur siangnya.

Membaca buku ini saya seperti diingatkan olah Jhon akan sebuah kata kunci yang berbunyi hidup adalah pilihan. Kata ini terlihat sederhana tapi berdampak luar biasa terhadap kehidupan yang kita jalani.

Pilihan-pilihan selalu ada di depan mata setiap detik dan hari. Memilih jodoh, pekerjaan, tempat tinggal termasuk aktivitas keseharian merupakan pilihan yang selalu ada dihadapkan seseorang, yang terkadang membingungkan. Pilihan yang saya maksud bukanlah pilihan antara keburukan dengan kebaikan, bukanlah syurga dengan neraka karena kalau ini sudah jelas dan tidak perlu memilih termasuk efeknya terhadap diri kita juga sudah jelas.

Yang ingin saya katakan di sini adalah pilihan dimana kita dihadapkan pada dua kebaikan atau lebih, bukan pilihan antara kebaikan dengan keburukan. Apa yang dialami oleh Jhon merupakan salah satu contoh seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik yaitu apakah akan tetap bekerja di perusahaan raksasa dengan segala fasilitas yang diterima, atau menjadi aktifis sosial dengan mendirikan perpustakaan di pelosok dunia dengan konsekuensi harus rela meninggalkan fasilitas dari perusahaan.

Soal pilihan, ustad Ulil dalam sebuah kajian di salah satu masjid di Kota Serang, Provinsi Banten, mengungkapkan keherananya kepada sebagian orang ketika dihadapkan pada pilihan baik dan buruk. Pria yang pernah mengenyam perkulihan di negara Arab ini, menceritakan sahabiah Nabi Muhammad Saw, ketika diminta untuk memilih apakah bisa bersabar menerima penyakit ayan tapi dijamin masuk syurga atau minta nabi mendoakan agar penyakitnya sembuh, tapi belum ada jaminan masuk surga karena kemungkinan akan terjemus ke dalam orang-orang yang tidak bersyukur.

Sahabiah tadi akhirnya memilih sabar demi masuk syurga daripada memilih minta didoakan sembuh, tapi belum ada jaminan masuk syurga dengan alasan yang nabi sebutkan di atas. “Wong dijamin masuk syurga kok ragu, buat apa menimbang-nimbang atau shalat istikharah, kan pilihannya masuk syurga,” kata ustad Ulil.

Begitulah manusia, terkadang salah menempatkan sikap dan keputusan. Sesuatu yang sudah baik masih ditimbang tapi hal yang buruk dilakukan tanpa pertimbangan. Apa yang dilakukan oleh Jhon dan cerita ustad Ulil bisa menjadi bahan perenungan dalam menjalani bahtera kehidupan supaya hidup lebih baik.

Jangan dibingungkan oleh pilihan buruk dengan kebaikan, tapi jangan ragu pula untuk memilih sesuatu yang lebih baik meski secara materi sedikit. ****

Kota Serang-Banten, Sabtu, 20 Juni 2009