“Maaf Pak, tiket kelas bisnis sudah habis,” kata operator pemesanan tiket Kereta Api sistem online kelas bisnis Cirebon Ekspres 25 hari sebelum lebaran. Mendengar jawab operator saya kaget dan heran karena pemesanan masih lama tapi bisa habis.

Sejak PT Kereta Api Indonesia melalui operatornya menyatakan bahwa tiket kereta jurusan Gambir-Tegal habis, saya langsung berunding dengan istri untuk membuat kebijakan baru tentang mudik. Waktu itu ada beberapa alternatif yaitu membatalkan mudik, menggunakan jasa rental mobil, minta dijemput dari rumah dan terakhir pakai jasa bus.

Setelah membuat berbagai pertimbangan yang rasional terutama rasionalisasi budget anggaran akhirnya kita memilih menggunakan jasa angkutan umum bus. Pada Senin (23/8) sekira pukul 10.00 WIB kami berdua meluncur ke agen bus Sinar Jaya di dekat Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, tepatnya 200 meter dari gerbang kampus beralmamater merah hati ini.

Di Agen Sinar Jaya tampak beberapa orang yang bermaksud sama dengan kami yaitu membeli tiket untuk mudik. “Waduh, untuk tanggal 7,8,9 sudah penuh paling ada untuk tanggal 6, itupun harus ikut bus jurusan Serang-Wonosobo,” kata salah seorang petugas penjual tiket kepada kami berdua. Untuk kali keduanya saya kaget dan menarik nafas, sempat bingung apakah tetap kita paksakan mudik. Waktu mudik saya yang rasional adalah mulai tanggal 6 jika tanggal sebelumnya maka tidak memungkinkan karena kantor belum libur.

Kurang lebih 10 menit saya berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan tetap mudik meski tanggal kepulanganya meleset dari waktu yang direncanakan. Bayangkan, bus yang akan kita tumpangi adalah jurusan Serang-Wonosobo sementara saya turun di Kota Brebes, Jawa Tengah. “Itukan setengah perjalanan lagi, masih jauh,” gumam saya dalam hati. Ini tentu akan menambah biaya perjalanan karena ongkos yang semestinya Rp 65.000 menjadi Rp 100.000 per orang. Lobi istri agar tetap dihitung sesuai tujuan kami ternyata gagal, biasa kalau cuaca lebaran jangan berharap bisa lobi soal harga tiket hampir dipastikan gagal.

Kami langsung boking tempat di kursi deretan kedua karena pada dertan pertama sudah dipesan. Meski semua perencanaan meleset tapi kami tetap senang karena akhirnya bisa mudik ke kampung halaman. Kami tidak memiliki alasan untuk menunda silatuarahim dengan orangtua ataupun mertua. Mudah-mudahaan perjalanan di bus mengasikan dan tidak terjebak macet.***