Membaca bukan saja menambah wawasan si kecil tapi ternyata bisa mengendalikan tantrum anak. Demikian diungkapkan seorang penulis buku Ann E Laforge.

Awalnya saya bingung ketika melihat Fadia (2), anak pertama kami yag tiba-tiba ngambek tanpa sebab. Ternyata itulah yang disebut tantrum. Cara yang efektif untuk meredakan badai rewel balita atau tantrum adalah membaca, terutama bacaan yang menceritakan karakter rasa seperti sedih, senang, terkejut, termasuk ekspresi frustasi sekalipun.

Untuk urusan membaca bagi saya tidak menjadi masalah karena sejak usia delapan bulan, Fadia sudah saya kenalkan dengan kegiatan membaca. Alhamdulilah buku tidak hanya mengembangkan kemampuan berpikirnya tapi juga kemampuan motoriknya seperti membuka lembaran buku yang tipis.

Seiring dengan bertambahnya usia Fadia, sifat “Keakuan” Fadia makin besar yang harus disikapi dengan benar dan tepat sehingga si kecil tidak mengalami kebingungan untuk memaknai sebuah kebenaran.

Salah satu contoh, sebagai keluarga muslim saya membiasakan menutup aurat karena ini adalah salah satu karakter dan kewajiban umat muslim yang bisa membedakan dengan umat lain.

Fadia terbiasa pakai jilbab sejak usia 3 bulan, tapi sejak masa negatifistiknya tumbuh, dia sering menolak memakai jilbab. Di sinilah orangtua “dipaksa” konsisten untuk menerapkan aturan tidak tertulisnya. Apabila kita kalah dengan berontaknya anak maka membingungkan anak itu sendiri.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah mengajak membaca buku yang ada kaitannya dengan jilbab. Sampailah saya menemukan buku berjudul “ Aku Cantik Pakai Jilbab”. Dalam buku tersebut hampir disemua halaman menampilkan dialog sang tokoh yang bernama Saliha dan ibunya.

Namun, di beberapa halaman dari buku tersebut gambar ibu yang sedang berdialog dengan Saliha tidak dimunculkan oleh penulis. Inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan Fadia. Tak lama setelah melihat halaman itu munculah pertanyaan dari si kecil. “ Ummi, ibunya mana?” tanya Fadia.

Sampai sekarang saya sendiri tidak mengetahui apa alasan sang penulis tidak menampilkan gambar sang ibu. Tapi analisis si kecil yang ditunjukan dengan melontarkan pertanyaan itu cukup membuat kagum karena stimulus analisisnya sudah mula bergerak .

Juli 2010, Kota Serang