Menulis bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang mejengkelkan sekaligus menyenangkan. Yah, jengkel bagi orang yang ingin menuliskan sesuatu dalam otaknya tapi tidak bisa menulisnya. Bahagia bagi orang-orang yang telah mampu mengeksplorasi ide-ide segarnya.

Sebetulnya semua orang bisa menulis, hanya mungkin tulisannya tidak pernah dimuat di media.Fakta inilah yang sering membuat orang jenuh dan bosan menulis. Padahal, banyak sumber yang ada di sekeliling kita dan bisa kita tuliskan menjadi buku.

Ide tulisan bisa datang darimana pun, seperti anak, istri, mertua, teman sekantor bahkan tukang becak sekalipun. Sepengatuhan saya banyak penulis yang mampu mengekspolrasi masalah kehidupan pribadi dan keluarganya.

Sebut saja, Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang menulis buku berjudul The Audcity of Hope; Thoughts on Reclaiming the American Dream. Dalam salah bab di buku ini, Obama menuliskan kisah ketika Malia, anak pertamanya lahir. Di dalam bab itu, Obama merupakan sosok ayah yang luar biasa. Ia mau mengganti popok dan memanaskan ASI untuk Malia. Kisah ini tidak mungkin orang lain tahu jika Obama tidak menulisnya.

Apalagi kita, yang tidak memiliki hubungan saudara ikatan darah dengan Obama. Kalau tidak percaya, silahkan baca bukunya yang telah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ruslani dan Lulu Rahman. Judul terjemahanya Menerjang Harapan dari Jakarta Menuju Gedung Putih, tepatnya di halaman 125.

Masih belum puas dengan Obama, saya tunjukan lagi buktinya yang ada di Indonesia yaitu Asma Nadia. Beberapa bukunya mengangkat pengalaman pribadinya sebagai ibu dari anak-anaknya. Sebut saja bukunya yang berjudul Catatan Hati Bunda, yang dicetak Juni 2008 lalu.

Dalam bukunya, adik pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) Helvy Tiana Rosa ini, menulis kisah keluarganya mulai dari kelucuan Caca, anak pertamanya hingga cerita menegangkan ketika Adam, anak keduanya terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena kejang-kejang.

Ketika itu, Adam sudah divonis akan mengalami gangguan otak. Namun, sang khalik memberikan mukjizat hingga akhirnya Adam menjadi sosok anak yang istimewa bagi keluarga Asma. Masih banyak buku-buku yang beredar di pasaran dan bisa menjadi insiprasi kita, seperti Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah karangan Salim A.Fillah, 168 Jam dalam Sandera karangan Meutya Hafid dan lainnya.

Nah, atas inspirasi merekalah saya menulis untuk Fadia, anak pertama saya yang lahir 20 April 2008. Ilmuwan penulis, demikian ide yang melintasi dalam benak saya ketika membaca buku-buku yang menceritakan dinamika keluarganya. Judul ini merupakan hadiah mimpi untuk Fadia, yang ketika tulisan ini dibuat baru berumur 7 bulan.

Impian Fadia menjadi ilmuwan karena memiliki aliran darah Uminya, yang lulusan MIPA Jurusan Fisika di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah. Sementara, darah penulisnya mengalir dari saya yang kebetulan menjadi wartawan di Radar Banten Jawa Pos Group.

Dalam bayangan saya, darah daging Fadia telah mengalir dua potensi yang kami miliki. Kini, tugas saya dan istri untuk memunculkan potensi tersebut. Soal nanti Fadia memilih jalan hidupnya sendiri itu urusan nanti, setelah dewan kelak. Ilmuwan penulis, itulah impian saya yang masih perlu mendapat persetujuan dari Fadia. **

Kota Serang, Februari 2009