“Kenapa Fadia ga berangkat sekolah lagi?” tanya saya kepada Fadia di pagi hari. “Bosan,” jawabnya dengan tegas tanpa ragu. Fadia adalah anak pertama kami yang ketika tulisan ini dibuat berumur 2,6 tahun..

Waow, anak usia 2,6 tahun sudah bisa dan berani menyatakan sikapnya sendiri tanpa ragu. “Loh kok bosan, katanya mau jadi dokter kandungan?” tanyaku dengan mengingatkan memori Fadia tentang cita-citanya ingin menjadi dokter kandungan yang pernah dia sampaikan saat baru berumur 1,5 tahun. “Ga mau,” katanya dengan nada tinggi seolah ingin menegaskan kepada saya bahwa ia tidak mau diganggu gugat soal urusan sekolahnya.

Maaf, bukan bermaksud ngalem anak sendiri, Fadia memang memiliki keunikan tersendiri. Dia sudah bisa mulai berjalan sejak usia satu tahun, bicaranya tidak cedal termasuk ketika mengungkapkan kata yang terdapat huruf “R”. Fadia juga kritis dan suka ngeles ketika menemukan sesuatu yang salah, seperti ketika ada salah satu anggota keluarga kami membuang sampah sembarangan, menempatkan handuk yang tidak rapi, nonton televisi dengan jarak terlalu dekat.

Fisiknya juga tergolong kuat karena sudah kami buktikan. Pertama, saat perjalanan dengan menggunakan sepeda motor ke Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Perjalanan dari Kota Serang ke Labuan dimana kami singgah kurang lebih dua jam.

Terakhir, Fadia kami ajak ke Kota Tangerang dengan menggunakan motor dan dia menikmati betul selama perjalanan. Selama di perjalanan Fadia selalu bernyanyi dan memberitahu kami saat menemukan objek yang selama ini ia kenal, seperti sungai, genangan air ataupun kendaraan besar.

“Kalau mau ke rumah nenek tuh lewat situ Bi,” katanya saat melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat jalan tol. Memang, saat kami mudik ke rumah nenek Fadia di Brebes,Jawa Tengah, pasti melewati tol Serang.

Kembali ke cerita Fadia yang bosan dengan sekolah. Saya dan istri langsung menangkap kenapa Fadia bosan sekolah. Analisis kami, pertama adalah Fadia ingin mencari suasana baru seiring dengan usianya yang bertambah. Kedua, perkiraan kami metode pengajaran guru yang mungkin dianggap membosankan Fadia.

Meski bosan masuk sekolah tapi Fadia tidak bosan dengan aktivitas membaca. Fadia masih suka membawa buku cerita apakah itu tentang lebah, pesawat astronot, ka’bah termasuk menulis dan bernyanyi huruf. Teori-teoir yang kami pelajari tentang pendidikan anak dua hal di atas aganya mendekati kebenaran.

Beberapa hari terakhir ini, kami dibuat sumringah pula karena selain masih suka membaca, menulis dan bernyanyi. Fadia menjadi rajin shalat, tak jarang Fadia yang mengajak kami shalat berjamaan di rumah. “Ayo Bi Shalat,” ajak Fadia saat saya baru pulang kerja. Sebetulnya, kegiatan shalat sudah dilakukan Fadia saat usianya dua tahun tapi tidak seatraktif sekarang (2,6 tahun).

Jika dulu Fadia hanya berdiri tapi sekarang Fadia minta wudlu dan mengikuti gerakan shalat lengkap mulai takbiratul ikhram hingga salam. Usai salam, Fadia langsung melempar senyum dan mencium tangan saya dan istri sambil menyodorkan pipinya untuk dicium. Jujur ingin saya katakana melalui tulisan ini. Perkembangan Fadia yang begitu atraktif dan berkarakter tidak lepas dari peranan istri.

Sejak di kandungan Fadia selalu diajak bicara, saat kali pertama lahir yaitu Ahad, 20 April 2008 pukul 03.00 WIB, Fadia langsung diberi colostrum, yaitu cairan yang keluar pertama kali dari puting berwarna kekuning-kuningan. Colostrum menurut ahli kesehatan anak adalah cairan yang memiliki manfaat besar bagi perkembangan anak dan hanya sekali keluar selama proses kehamilan.

Oleh istri yang mengaku sering bergaul dengan anak kedokteran saat kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, ini mengatakan kepada saya bahwa colostrum akan membuat ketahanan tubuh anak kuat sehingga tidak mudah sakit. Tak hanya itu, istri juga memberikan stimulus yang kuat kepada Fadia sejak di kandungan sampai sekarang.

Fadia juga beruntung karena istri memberikan ASI full dua tahun sebagaimana yang di anjurkan oleh Al Qur’an. “Hendakah kaum ibu menyusi anak hingga dua tahun penuh” demikianlah penggalan ayat dalam salah satu surat di Alquran. Istri sendiri alumni MIPA Fisika Sains UNS Solo.

Ini semua bagian dari proses pembelajaran kami menjadi orangtua. Banyak hal yang menggembirakan, terharu yang terkadang kami dibuat tertawa oleh tingkah Fadia. Pernah suatu ketika Fadia mengatakan kalau bapaknya ganteng atau dia tertawa sambil mengatakan “Ya ampun, ya ampun kok Ummi bisa masuk tivi gimana caranya”.

Ungkapan ini terjadi saat istri masuk di BRTV tentang warung kami. Logika sistematis pikirnya berjalan begitu cepat melebihi usianya, tak heran Fadia dikenal di lingkungan keluarga saya seperti orangtua. Terima kasih ya Allah, semoga kami bisa menjaga Fadia dengan baik, mengantarkan dia ke status terhormat dan menjadi ibu cerdas kelak dikemudian hari.

Kota Serang, Minggu 5 Desember 2010