Sebagai pasangan muda, saya dan istri terus terang agak was-was bercampur gembira ketika menghadapi masa persalinan. Maklum, kami sering menerima cerita-cerita persalinan yang kurang menggembirakan, seperti proses kelahiran yang harus dioperasi atau keguguran.

Karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak pertama kami, berbagai upaya pun dilakuam mulai dari memeriksa kehamilan secara rutin sampai mengasah ilmu melalui berbagai buku. Beruntung, istri nyambung dengan pola membina rumah tangga ala aktivis yaitu belajar dan membaca.

Semangat ini pula yang kemudian memberi insipirasi bagi kami membeli buku karangan Imam Musbikin, yang berjudul Persiapan menghadapi persalinan. Buku setebal 481 halaman ini pun dibedah oleh istri. Mulai dari pola makan ibu hamil hingga senam kehamilan, dapatkan istri dari buku ini. Saya sendiri hanya menjadi pendengar yang baik sembari sekali-kali memotivasinya.

Salah satunya adalah bagian yang membahas soal dukungan suami terhadap istri ketika proses persalinan. Wah, dari sini terbayangkan darah berceceran di depan mata. Padahal, saya termasuk orang yang tidak kuat melihat darah.

Dalam bab ini, Imam mebeberkan betapa bahagianya sang istri ketika mendapatkan dukungan positif dari suami terutama pada usia kandungan 9 bulan. Di usia inilah emosi dan perasaan istri dan kita sebagai suami akan berubah drastis.

Setiap malam kami mendiskusikan persiapan apa yang kira-kira belum dilakukan. Nama untuk anak, popok, kain hingga obat-obatan ringan pun tak ketinggalan menjadi pembahasan kami. Sekali lagi, semuanya itu kita dapatkan ari proses belajar yang didapatkan dari membaca.

Tak cukup hal-hal kebutuhan pokok, nomor handpone bidan yang menjadi langganan dan nomor telepon taksi pun kita tempatkan pada tempat yang khusus, dengan tujuan agar mudah dicari. Pokoknya kita membayangkan seperti mau menghadapi peperangan di medan yang baru menjadi bayang-bayang, sehingga tampak samara-samar.

Kegiatan istri tampak lebih detil lagi, ia menyiapkan barang-barang yang diperlukan pada proses persalinan. Empat kain, sarung, popok, dan obat-obatan ringan dimasukan ke dalam tas khusus. Persiapan teknis yang telah kami siapkan membuat kami merasa siap untuk menghadapi persalinan, dan Alhamdulillah persalinan berjalan lancar dan aman. Anak pertama yang kemudian kami beri nama Hazimah Ayu Fadia pun lahir, tepatnya Minggu 20 April 2008. **