Foto saat Hazimah Ayu Fadia mengikuti kompetisi Taekwondo pada Turnamain yang diselenggarakan Posco Krakatau Steel di Gedung Olahraga Kota Cilegon, Provinsi Banten tahun 2018.

Kempat anak saya memang sengaja menggunakan komponen kata Islam dan Nasionalis. Sejarahnya sih sebenarnya ketika kelahiran anak pertama situasi dunia sedang tidak ramah dengan stigma buruk terhadap Muslim. Ketika itu berita soal sulitnya sejumlah nama yang menggunakan kata identitas Islam dicurigai dan mendapatkan perlakuan yang tidak adil atau kata singkatnya dipersulit.

Karena saya tipe orang imajinasi maka ketika itu saya langsung membayangkan bagaimana caranya supaya nama anak saya bisa diterima dunia, tanpa curiga tetapi juga tidak meninggalkan jejaknya sebagai seorang Muslim.

Terfikirlah ketika itu untuk menggabungkan nama nasionalis atau lebih tepatnya sih nama Jawa dan nama Islam. Karena perempuan maka otomatis yang paling identik dengan Suku Jawa adalah Ayu, artinya cantik.

Nama Ayu familiar dikalangan masyarakat Jawa dan nama inilah yang akhrnya saya sepakati bersama istri. Lalu kami pun mendiskusikan nama pasangannya yang identik dengan Islam. Kami berdua pun mencari referensi buku nama - nama Islam.

Lalu munculah nama Hazimah, kalau saya baca literatur  arti Hazimah sebenarnya ada empat yaitu wanita yang memiliki keteguhan hati, keyakinan diri, bersikap tegas dan wanita yang sangat teliti. Saya dan istri pun akhirnya sepakat untuk menyandingkan kata Ayu dengan Hazimah.

Lalu istri pun menambahkan satu kata lagi yaitu Fadia, kata dia Fadia itu nama salah satu spesies bunga di Jepang yang dikenal cantik atau keindahannya. Dan bunga adalah identik bagi seorang wanita.  "Okelah," kata saya kepada istri dan akhirnya kami berdua sepakat menggunakan tiga kata nama dan jadilah nama anak pertama kami Hazimah Ayu Fadia.

Jadi Hazimah Ayu Fadia, artinya kurang lebih seorang wanita cantik yang memiliki keteguhan hati, tegas dan teliti. Bayangan ijaminer saya nanti dia ketika bergaul dengan dunia dimana situasinya tidak memungkinkan menggunakan kata - kata Islam maka dia bisa pakai nama Ayu.

Namun ketika dia bergaul dengan situasi yang kondusif terhadap Islam maka dia bisa pakai nama Hazimah, kira - kira begitulah. Dalam perjalanannya Ayu Fadia mewarisi karakter saya dan istri yang memang berbeda.

Saya adalah orang sosial yang suka menulis dan menyukai seni, sedangkan istri adalah orang eksak, matematic logik. Fadia menjadi anak yang selalu unggul dalam bidang eksaknya, ketika SD dia mendapatkan rangking satu.

Pada bagian lain, dia juga menyukai seni,  suka dengan gambar dan punya kecerdasan sosial. Hazimah Ayu Fadia memang punya dua kecerdasan, yaitu kecerdasan matematic logic mewarisi ibunya dan kecerdasan sosial mewarisi saya.

Istri memang alumni Fisika Universitas Sebelas Maret atau dikenal UNS, Solo, Jawa Tengah. Konon ceritanya dia sejak SMP memang doyan ilmu eksak. Sementara saya kebalikannya, rasanya panas dingin kalau belajar ilmu eksak.

Yah, sebagai seorang Ayah melihat perkembangannya dia dari bayi, anak -anak sampai sekarang sekolah di MTS cukup meyakinkan sebagai anak pertama dia akan membuka jalan kesuksesan bagi ketiga adik laki - lakinya.

Nah untuk sejarah nama tiga anak laki - lakinya (Zadda Gagah Al-Fasya, Muhammad Gigih Al Fasya dan Mafaza Galih Al -Fasya) nanti akan saya tulis dilain waktu. Tapi secara filosofi dasar sih sama dengan Hazimah Ayu Fadia. Hanya saja ada ruh yang berbeda dengan ketiga anak laki - laki saya.