Banyak cerita di dunia ini, semenjak zaman dahulu kala Bagi manusia yang banyak dosa di azab Allah Lihatlah Fir’aun, manusia yang sombong di tenggelamkan di lautan dalam Kaum Nabi Luth dan Kota Pompaii Telah hancur lebur tinggal jejaknya.

Kalimat di atas adalah penggalan lirik lagu anak-anak yang menceritakan tentang Fir’aun dan kaum Nabi Luth. Dalam kepingan CD tersebut, digambarkan secara umum bukti-bukti kekuasaan Allah SWT yang menenggelamkan Fir’aun di laut dan hancurnya Kota Pompaii serta musibah yang menimpa kaum Nabi Luth.

Fir’aun adalah gelar raja Mesir ketika dulu. Nah, dalam kisahnya, Ramses II atau Fir’aun yang sombong hingga pada klimaksnya, Fir’aun mengaku sebagai Tuhan bagi masyarakat saat itu. Nabi Musa yang hidup di zamannya pun diperintahkan untuk mengingatkan Fir’aun, tapi Ramses II ini justru memusuhi Musa dan ummatnya. 

Bahkan, Fir’aun mengejar Musa dan pengikutnya ketika mereka hendak pergi dari negeri tersebut. Singkat cerita, pada saat menemui jalan buntu para pengikut Musa bingung bahkan ada sebagian dari mereka terkesan menyesal, mengikuti ajaran Musa.

Di luar dugaan, munculah mukjizat dari Allah SWT berupa kekuatan tongkat Musa yang mampu membelah laut hingga akhirnya Musa dan pengikutnya bisa melewati jalan buntu tersebut. Fir’aun dan pengikutnya pun hendak mengejar tapi ketika berada di tengah belahan laut, Allah SWT kembali menyatukan belahan laut sehingga Fir’aun dan pengikutnya tenggelam. Aneh, jasad Fir’aun diselamatkan oleh Allah dan terdampak di pinggir laut hingga akhirnya dibuat mumi.

Pada kisah selanjutnya, Kota Pompaii ditimpahkan musibah berupa hujan api dan gempat bumi hingga kota tersbut hanya menyisakan bangunan-bangunan, yang sudah hancur lebur. Manusia penghuni kota tersebut pun menjadi batu dan hancur akibat dahsyatnya musibah tersebut. Kota Pompaii di zamannya terkenal makmur dan keindahan kotanya. 

Tapi sayangnya penduduk Pompaii memiliki kebiasaan buruk yang dibenci Allah SWT, penduduk di kota ini gemar mengadu manusia secara sadis hingga lawannya tewas. Lawan yang tewas kemudian diberikan kepada srigala-srigala.

Kisah penuh hikmah yang terdapat di CD tersebut selalu menjadi menu keseharian Fadia, yang saat itu baru berumur 1 tahun 3 bulan. Biasanya, Fadia menonton kisah yang diperankan oleh Tupi dan Pingi-ping ini di laptop mungilnya. 

Yah, saya dan istri bangga melihat Fadia sudah mengenal laptop di usianya yang baru satu tahun tiga bulan. Meski belum lincah memahami fungsi keseluruhan dari laptop warna hitam tersebut, tapi kami merasa bangga karena Fadia sudah bisa memangku dan memencet beberapa tools di laptop, meski ia sendiri belum mengetahui fungsinya.

Setiap pagi, usai shalat subuh sekitar pukul 05.00 WIB, Fadia biasanya bangun dan langsung meminta diambilkan laptop. Sore harinya, usai shalat ashar pun Fadia meminta diambilkan laptop dan langsung minta diputarkan film kisah-kisah insipiratif. 

Betul-betul perkembangan Fadia cukup membanggakan, ini pula yang kemudian menancapkan cita-cita besar saya akan sosok Fadia dewasa nanti, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Muslimah yang memiliki akidah kuat, wawasan luas, sejuk dan menenangkan serta muslimah yang mampu menyampaikan agama sesuai dengan bahasa kaummnya. Selamat meraih cita-cita nak, semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sekeluarga, amin. *****