Dari Kanan - Muhammad Gigih Al-Fasya, Zada Gagah Al Fasya dan Mafaza Galih Al-Fasya. Jepretan/AyuFadia

Mengelola tiga anak laki - laki yang berbeda karakter, tanpa pembantu dan tak memiliki pengalaman karena saya ketika kecil tidak mengalami seperti yang mereka alami. 

Mengelola tiga anak laki - laki dengan karakter yang berbeda memang mesti sabar ekstra, apalagi kalau mereka bertiga lagi badmood dimana konflik bertiga sering terjadi. Namanya juga konflik anak - anak, tidak butuh waktu lama untuk kembali berdamai dan bermain bersama.

Gagah, Gigih dan Galih, itulah tiga anak laki - laki saya punya kekhasan masing - masing. Gagah suka menggambar dak otak Atik peralatan, Gigih suka yang pandai bercerita dan Galih yang tidak mau diam alias kinestetik.

Selain hobi menggambar, Gagah suka ngambek kalau dibangunkan tetapi dalam kondisi masih mengantuk. Beruntung beberapa bulan ini belajar online sehingga tak perlu membangunkan dia dipagi hari.

Saat masuk sekolah offline dan harus berangkat pagi, kami pasti disibukan untuk mengatasi anak yang kami beri nama lengkap Zada Gagah Al - Fasya  ini uring -uringan ketika dibangunkan dalam kondisi masih mengantuk.

Sementara Gigih anak yang tak mau gosok gigi dan enggan potong rambut dan kini rambutnya pun gondrong bergelombang. Berbagai cara telah dilakukan untuk membujuk anak yang kami beri nama lengkap Muhammad Gigih Al-Fasya supaya gosok gigi, tapi sampai sekarang belum berhasil.

Bukan cuma itu, Gigih yang terpaut tiga tahun dengan Gagah juga sering ngeselin karena tidak mau mengambil minuman sendiri meski sebenarnya bisa melakukannya.

Kami seisi rumah sudah mengenal gaya Gigih ini yang paling nyebelin. Bayangkan saja, air di gelas di depannya saja tidak mau mengambil dan minta diambilkan, dan bukan kadang - kadang tapi setiap hari.

Sementara itu Galih, adik mereka berdua adalah anak yang tidak mau diam. Menurut istri gelagat anak yang kami beri nama lengkap Mafaza Galih Al -Fasya ini sudah dirasakan sejak dalam kandungan. Karena saking aktifnya, saya dan kakak - kakaknya tidak ada yang mampu bertahan lama momong Galih. Paling lama 30 menitan.

Asal tahu saja kami mengelola mereka bertiga tanpa pembantu rumah tangga, semua dilakukan secara mandir saya dan istri. Pada bagian lain, ini pengalaman baru saya karena kehidupan saya sejak kecil tidak mengalami seperti yang anak - anak saya rasakan.

Terkadang saya selalu bilang kepada anak laki - laki saya bahwa mereka beruntung bisa bermain dan berantem gaya anak - anak karena masa yang dirasakan mereka tidak pernah saya rasakan ketima seusuanya.

Meski sering berantem tapi kalau kita tinggal mereka di rumah maka Gagah tampil sebagai seorang kakak secara sempurna. Dia selalu mengalah, momong dan sabar meladeni Gigih yang sering nyebelin. 

Tapi ketika kami pulang ke rumah maka Gagah tampil sebagai seorang kakak pada umumnya, marah kalau mainannya dirusuhin adiknya. Gagah dan Gigih seringkali rebutan channel tv karena ingin menonton film kesukaannya masing - masing.

Saya bersyukur karena tiga anak laki - laki saya lahir sempurna dengan keunikannya masing - masing. Terkadang mereka kompak, terkadang konflik karena persolan sepele. Yah, namanya juga anak - anak. Saya percaya suatu ketika kalian akan kangen dengan suasana seperti yang sekarang rasakan.

Semoga kita diberi umur panjang dan bisa menikmati dunia dengan senyuman dan kebahagiaan. ***