Banyak orang berpikir bahwa dengan menambah ilmu pengetahuan maka secara otomatis nasibnya akan berubah. Padahal, pengetahuan hanyalah salah satu faktor dari sekian pembentuk keberhasilan.

Kalimat di atas merupakan salah satu penggalan kata di dalam buku kubik leadership yang ditulis Farid Poniman dan kawan-kawan. Terus terang saya tersadarkan dengan kalimat ini karena selama ini sering mempersepsikan, bahwa keberhasilan seseorang hanya ditentukan oleh sejauhmana ia menguasasi ilmu pengetahuan.

Mengutip pernyataan Farid, pengetahuan bisa menjadi masukan berharga dan dapat mendorong keberhasilan, sangat tergantung apa yang akan kita lakukan dengan pengetahuan itu. Apa yang dikatakan Farid dkk sangatlah tepat jika dikorelasikan dengan fakta di lapangan, dimana ada ratusan atau mungkin ribuan penganggur terdidik yang hingga saat ini masih bingung dengan masa depannya.

Sebagai wartawan, saya sendiri cukup intens mengamati perkembangan tenaga kerja sejak terjadi krisis keuangan global dunia. Kebetulan saya bertugas di wilayah Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Di daerah yang memiliki ratusan perusahaan ini ternyata dalam waktu tiga bulan ada ribuan karyawan yang di PHK. 

Diantara perusahaan yang pailit yaitu PT Panca Plaza Textilindo dan PT Grand Pintalan, keduanya berada kawasan industri Serang Timur. Bahkan, termasuk tetangga saya sendiri yang sampai saat ini seperti orang bingung. Peristiwa yang terjadi pada akhir tahun 2008 ini sungguh memprihatinkan, apalagi jika menengok nasib mantan karyawan tersebut.

Kembali ke persoalan ilmu pengetahuan, ternyata memang masih banyak orang-orang yang boleh dikatakan memiliki ilmu pengetahuan tapi tidak mampu berbuat apa-apa. Lalu apa sesungguhnya yang melatarbelakangi semua ini?.

Menurut pengamatan sederhana saya, masalahnya ternyata ada pada “kemalasan” dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Kita tidak mungkin bisa jadi perenang manakala hanya berdiri di pinggir kolam renang. Kita tidak mungkin menjadi pengusaha jika tidak pernah melakukan usaha. Kita tidak mungkin menjadi penulis jika tidak pernah menulis meskipun kita mengusai segudang teori.

Fakta di lapangan, banyak orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup mengaggumkan tapi sayang ilmu yang dimiliki belum pernah direalisasikan. Apa yang dituliskan oleh Pak Farid dalam bukunya yang memiliki ketebalan 405 halaman ini, menambah spirit baru tentang mimpi saya untuk memiliki rumah publishing.

Meskipun belum terwujud, tapi dalam konteks aplikasi keilmuan paling tidak saya sudah melakukan langkah-langkah. Terima kasih Pak Farid atas tulisannya semoga kita bisa bertatap muka dalam suatu momen. ***